Menambang Udara Demi Bahan Bakar

18/08/2011 16:53

 

Konsentrasi karbon dioksida (CO2) di atmosfer dilaporkan terus meningkat dan berpotensi mengakibatkan perubahan iklim. Beragam upaya penurunan emisi dilakukan, tetapi banyak yang belum mantap sehingga hasilnya masih belum bisa dinikmati.

Byron Elton, chief executive Carbon Science, perusahaan start up dari Santa Barbara California punya ideout of the box untuk mengatasi persoalan itu. Ia mengusulkan untuk menambang udara, mengambil CO2, mendaur ulangnya untuk diolah menjadi bahan bakar. Seperti diketahui, emisi dari bahan bakar dan industri adalah yang paling besar kontribusinya bagi perubahan iklim.

"Anda punya semua CO2 ini, benda menjijikkan ini, apa yang akan Anda lakukan. Orang mengatakan, 'kurangi, sembunyikan'. Kita mengatakan, 'tidak, berikan pada kami dan kami akan mengubahnya menjadi bahan bakar," kata Elton pada National Geographic, Rabu (10/8/2011).

Untuk bisa melakukannya, Elton mengembangkan katalis metal berbahan nikel, kobalt, aluminum dan magnesium. Dengan bantuan katalis metal yang telah dipatenkan Carbon Science itu, bahan bakar bisa diciptakan dengan menggabungkan CO2 dengan gas alam.

Sejauh ini, Carbon Science telah berhasil memadukan CO2 dengan metana (konstituen utama gas alam) untuk menghasilkan syngas. Syngas secara sederhana adalah "tulang belakang" dari hidrokarbon yang nantinya bisa diubah menjadi bahan bakar.  

"Kami percaya, pendekatan kami akan menjadi kunci transformasi gas rumah kaca menjadi bahan bakar yang efektif secara biaya dalam skala global," kata Elton. Ia mengatakan, penggunaan katalis metal yang dipatenkan juga akan menekan biaya karena lebih murah.

Elton mengatakan, ada beberapa keuntungan menggunakan bahan bakar recycle ini. "Karbon digunakan dua kali, tidak langsung hilang begitu saja ke udara. Ini juga secara langsung mengatasi masalah keamanan energi," katanya.

Yang jelas, bila benar bisa terwujud, daur ulang CO2 ini bisa mengurangi ketergantungan pada minyak bumi. Ide bahan bakar listrik seperti pada mobil elektrik saat ini belum bisa memenuhi kebutuhan transportasi udara dan laut. Daur ulang CO2 bisa mengatasinya.  

 

Source : Devo Avidianto P Web, Nationalgeographic.com