Indonesia Cocok Untuk Budidaya Abalon

29/11/2011 20:57

 

Dwi Eny Djoko Setyono, profesor riset baru Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang dikukuhkan hari ini mengatakan bahwa Indonesia memiliki prospek besar untuk mengembangkan abalon. Menurutnya, Indonesia memiliki wilayah pesisir yang luas sebagai tempat budidaya abalon. Selain itu, permintaan dan harga abalon di dunia saat ini cukup tinggi.

"Masa depan budidaya abalon di Indonesia sangat baik mengingat lahan untuk membuka usaha budidaya abalon (area pesisir) sangat luas, makanan abalon berupa rumput laut dan ganggang makro sangat melimpah. Selain itu, tenaga kerja berpendidikan ilmu perikanan dan budidaya tersedia, jaringan pemasaran juga sudah ada," jelas Djoko ketika ditemui dalam acara pengukuhannya sebagai guru besar riset hari ini (11/11/2011) di Jakarta.

Djoko menambahkan, "Pasar untuk abalon hasil budidaya telah berkembang di Cina, Jepang dan negara Eropa. Bahkan, Jepang diketahui sebagai negara pelanggan abalon Indonesia. Harga abalon di pasar ekspor mencapai 40 dollar AS per kg untuk abalon yang hidup dengan cangkang, 45 dollar AS untuk beku, 66 dollar AS untuk daging abalon segar dan 80 dollar AS untuk abalon yang dikalengkan."

Abalon diketahui merupakan sejenis siput yang masuk dalam marga Haliotis. Abalon memiliki satu lembar cangkang dengan lubang-lubang multifungsi di tepiannya, bisa untuk makan, reproduksi, pernafasan maupun pembuangan kotoran. Abalon hidup di air laut, tepatnya di dasar perairan dan sangat dipengaruhi temperatur dan ketersediaan makanan. Umumnya, abalon tumbuh 20-30 mm per tahun.

Indonesia sendiri diketahui memiliki 7 spesies abalon, diantaranya Haliotis asinina, H squamata dan H ovina. Abalon banyak tersebar di pantai Indonesia timur, wilayah Lombok, Sumbawa, Flores, Sulawesi, Maluku dan Papua. Di sana, abalon lebih dikenal dengan siput mata tujuh atau bia telinga.

Djoko menguraikan, budidaya abalon dimulai di Jepang pada tahun 1950an dan kemudian menyebar ke Indonesia. Meski demikian, budidaya abalon di Indonesia saat ini belum marak. Menurut Djoko, belum marakanya budidaya abalon disebabkan karena lamanya waktu budidaya sehingga memakan waktu agar modal bisa kembali.

"Untuk bisa panen awal itu perlu waktu 2 tahun. Perlu dana besar untuk membuka dan tidak bisa cepat kembali. Dari benih pertumbuhannya lambat. Jadinya belum banyak. Padahal, sebenarnya kalo sudah 2 tahun panen awal, kita bisa panen setiap bulan," jelas Djoko.

Menurut Djoko, besarnya prospek budidaya abalon menuntut respon pemerintah dalam mensosialisasikan pada masyarakat. Diharapkan masyarakat, terutama di Indonesia timur yang potensial bagi pertumbuhan abalon, lebih tahu tentang abalon, cara budidayanya serta keuntungan ekonomi yang mungkin didapat dengan membudidayakannya.

Menurut Djoko, pemerintah juga perlu mendukung riset tentang abalon, salah satunya untuk menyingkat waktu awal budidaya, antara lain soal pakan. "Kalau dengan teknologi dan pakan yang bagus, waktu 2 tahun bisa disingkat menjadi 1,5 tahun. Bahkan di Thailand sudah diklaim ada yang bisa selama 15 bulan untuk membesarkan."

Djoko juga menyinggung perlunya memulai riset tentang hormon pertumbuhan. Tujuannya adalah untuk menghasilkan abalon dengan daging lebih tebal dalam jangka waktu lebih cepat. Menurut Djoko, LIPI sendiri suidah melakukan riset tentang pembenihan dan akan segera melakukan riset tentang pembesaran tahun depan.

Analisa Djoko menyebutkan bahwa abalon bisa dibudidayakan dalam kolam di pesisir atau keramba apung dengan ukuran 1x5 meter serta kepadatan 400 - 500 per meter persegi. Lahan budidaya bisa dimaksimalkan dengan membuat sekat sehingga ada lebih banyak ruang bagi abalon untuk melekat dan berlindung.

Untuk membuat usaha kecil abalon, dibutuhkan investasi awal beberapa ratus juta. Meski tergolong besar, namun dengan harga abalon yang tinggi maka usaha ini menurut Djoko menjanjikan.

"Memeliharanya juga mudah, jauh lebih mudah daripada memelihara lobster. Tidak ada kanibalisme karena mereka hidup menggerombol," jelas Djoko.

Abalon dinilai memiliki khasiat anti kanker dan bisa membantu menangani diabetes. Pasar terbesar yang bisa dibidik saat ini adalah Cina sebab banyak restoran yang menawarkan menu abalon. Prospek abalon juga besar karena belum banyak yang bermain serta belum ada persyaratan kualitas tertentu yang diterapkan importir.

Sumber : Kompas